Putri Duta Besar (Bag 2)
Thursday, December 29th, 2005…Batu ungu Aquatis dan aroma jeruk nipis dari tiram itu membuatku menatap mahluk mentah yang licin dan basah dalam tiram itu seakan berharap menemukan sebutir mutiara hitam yang sedang bersembunyi. "ngga deh" aku menjawab sambil melihat wajah si pemilik tangan halus. "it’s an aphrodisiac, you know" jawabnya sambil tetap menjulurkan mahluk mentah itu di hadapanku. Mendengar kata aphrodisiac secara otomatis oyster licin dan basah itu berubah menjadi sekilas ilustrasi erotis dari sebuah titik sensual wanita. Aku tersenyum sendiri dengan kilasan nakal tersebut dan sekaligus menjadikan itu sebagai senyuman menolak halus tawaran aphrodisiac yang aku rasa bermakna ganda dari Nadine, si pemilik batu Aquatis dan seorang invesment banker handal dari sebuah rumah trading yang berbasis di Hong Kong. "Kapan dateng Nad?" tanyaku sambil memegang tangan kiri nya yang memegang segelas white wine dan mengecup pipi nya.
"Udah dari dua hari yang lalu" jawabnya sambil tetap memutar-mutar oyster itu di depanku hidungku.
"Stop that, you corporate raider" kataku sambil mengelak tiram yang melayang-layang di udara. "Perusahaan sapa yang jadi korban kali ini ?" tanyaku lagi.
"Adalah, BUMN cupu….tadi pagi due dilligence nya" katanya sambil menenggak white wine nya. "Here, swallow it’s good for you" katanya lagi menyodorkan oyster itu lagi.
"I don’t swallow but you do, don’t you?" aku berbisik di telinganya sambil mengecup pipinya dan berjalan sambil melambaikan tanganku.
"Fuck you, baby" katanya sambil meniupkan ciuman dari jauh.
Aku menoleh kebelakang dan melihat dia membalas lambaian tanganku dan menghilang kembali kedalam lingkaran teman-temannya. Aku tersenyum dan ingatanku melayang ke hari-hari dimana kita berdua sedang mengambil program S2 dibidang International Business. Otaknya yang cemerlang banyak membantuku menyelesaikan beberapa kasus studi. Hubungan pertemanan kita cukup dekat walaupun tidak pernah sampai ada ikatan emosional yang mendalam selain beberapa kali dia menghabiskan malam di tempatku sambil bercerita mengenai pembuktian diri di dunia kerja yang didominasi oleh laki-laki. "Men are dogs" katanya. Snoop doggy dog, tell me something I don’t know, darling aku sering bilang ke dia.
Kembali aku melanjutkan perjalanan menuju meja pojok dimana temanku sudah menunggu. Kepadatan di sekitar ujung meja bar agak menipis dan memungkinkan aku untuk mempercepat langkahku. Perjalananku dari pintu masuk tadi ternyata memerlukan ketekunan yang luar biasa untuk mencapai ke meja pojok itu. Pada akhirnya sampai juga aku di meja pojok itu dan melihat sedikit kepala teman ku menyembul dari balik laptop yang terbuka. "Wassup Pally" sapa ku. "Pally" panggilan yang sudah belasan tahun kita berdua pakai untuk menyapa satu sama lain. "Wassupppppp…..suntuk abis jreng" jawabnya sambil meniup asap Jie Sam Soe nya ke monitor laptop.….(bersambung)
Image - Cover Design South of the Border, West of the Sun by Haruki Murakami